Senin, 02 Juli 2012

MEMAHAMI NILAI DAN MAKNA DALAM KATA-KATA APRESIASI SAJAK-SAJAK ANGKATAN ’45 DENGAN PENDEKATAN ANALITIK DAN EKSPRESIF


MEMAHAMI NILAI DAN MAKNA DALAM KATA-KATA
APRESIASI SAJAK-SAJAK ANGKATAN ’45 DENGAN PENDEKATAN ANALITIK DAN EKSPRESIF

PENDAHULUAN
Latar Belakang Pemilihan Puisi Dan Pendekatan
Dalam makalah ini, kami akan membahas tentang analisis puisi Angkatan 45 dengan menyertakan beberapa contoh puisi yang sudah kami analisis. Puisi yang kami analisis mewakili karakteristik umum puisi Angkatan 45. Kami memilih puisi Angkatan 45 karena puisi pada Angkatan 45 telah terjadi revolusi dalam perpuisian Indonesia. Pada masa itu telah muncul suatu angkatan yang merasa lain daripada puisi Pujangga baru. Puisi Angkatan 45 lebih mementingkan isi daripada bentuk. Puisi Angkatan 45 dapat dilihat sebagai reaksi untuk melepaskan diri dari nama Pujangga Baru. Puisi-puisi Angkatan 45 menunjukkan ciri-ciri kebaruan.
Dalam hal gaya bahasa, angkatan 45 menyingkirkan pemakaian superlatif-superlatif yang disukai Pujanga Baru. Dalam segi bentuk puisi angkatan 45 tidak lagi terikat oleh pembagian bait,baris,dan persajakan. Dari segi isi puisi angkatan 45 bertemakan perjuangan karena terpengaruh oleh penjajahan Jepang.

Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memaparkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam puisi angkatan’45. Pada dasarnya, puisi angkatan ’45 bersifat patriotismedan memiliki unsur-unsur perjuangan. Jika ditinjau dari segi bentuk dan strukturnya, puisi pada angkatan ini, lain dengan puisi-puisi pada angkatan sebelumnya. Pada angkatan ini, telah terjadi secara radikal dari segi apapun. Oleh karena itu, dalam makalah ini, dibahas mengenai perubahan-perubahan tersebut agar pembaca mampu mengapresiasi puisi angkatan ’45 dam membandingkannya dengan puisi angkatan sebelumnya.
                  
Pengertian Pendekatan dan Prosedur Kerja
Sastra memiliki nilai tertentu yang bermanfaat untuk kehidupan. Tidak hanya keindahan, tetapi amanat-amanat yang bermanfaat dalam kehidupan. Ada beberapa alasan mengapa kita perlu membaca sastra, antara lain sastra dapat memberikan kenikmatan, sastra dapat memberikan informasi,sastra dapat memberikan warisan kebudayaan dan mampu memberikan kehidupan. Untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam sastra, kita dapat mengapresiasinya melalui beberapa pendekatan, yaitu cara pandang tertentu yang akan diterapkan kepada sajak yang akan diapresiasi. Pendekatan-pendekatan tersebut diantaranya pendekatan pendekatan historis (the historical approach), pendekatan sosiopsikologis (the sosiopsyicological approach), pendekatan emotif (the emotive approach), pendekatan ekspresif (the didactic approach), pendekatan parafrastik (the paraphrastik approach), dan pendekatan analitik (the analytic approach).
Dalam makalah ini akan digunakan pendekatan analitik dan pendekatan ekspresif. Pendekatan ekspresif dalam mengapresiasi puisi, dimaksudkan untuk mengungkapkan nilai-nilai moral atau pengajaran yang ada di dalam karya sajak. Puisi mengajarkan sesuatu kepada pembacanya tentang keadilan, kebenaran, kebebasan, kemerdekaan, kebaikan, ketuhanan, kesopanan, atau nilai-nilai kemanusiaan lainnya. Pendekatan ekspresif sebenarnya melibatkan kajian terhadap tujuan pengarang serta observasinya terhadap kehidupan. Observasi tersebut mungkin mengandung nilai moral atau etika. Kajian terhadap tujuan pengarang dapat meningkatkan kemampuan untuk menangkap apa yang tersirat dalam puisi. Puisi tidak menuntut pembacanya percaya, tetapi mengundang pembaca untuk turut mengalami. Pembaca boleh tidak atau menerima pandangan penyair.  Melalui pendekatan ini pula kita mampu merumuskan filsafat dan cita-cita hidup.
Adapun beberapa prosedur untuk menerapkan pendekatan ekspresif dalam mengapresiasi puisi, diantaranya 1. Membaca sajak yang akan diapresiasi; 2. Memahami unsur-unsur intrinsic puisi; 3. Memahami nilai-nilai moral yang terkandung dalam puisi; 4. Menghubungkan nilai-nilai tersebut dengan kehidupan.

KARAKTERISTIK PUISI
Karakteristik Bahasa
Diksi

            Diksi yaitu pemilihan kata dalam sajak. Para penyair ingin mengekspresikan perasaan dan pikirannya dengan ekspresi yang dapat menjelmakan pengalaman jiwanya tersebut. Untuk itulah dipilih kata-kata yang tepat. Kata-kata yang dipilih disusun dengan cara yang sedemikian rupa hingga artinya menimbulkan imajinasi estetik disebut diksi puitis (Pradopo, 1987:54). Jadi diksi digunakan untuk mendapatkan kepuitisan dan nilai estetik. Diksi dalam puisi dapat ditinjau dari segi kosakata, pemilihan kata, dan denotasi serta konotasinya.
            Alat untuk menyampaikan perasaan dan pikiran sastrawan adalah bahasa. Baik tidaknya tergantung pada kecakapan sastrawan dalam mempergunakan kata-kata(Pradopo, 1987:51). Kehalusan perasaan sastrawan dalam mempergunakan kata-kata sehari-hari sangat diperlukan. Puisi akan mempunyai nilai abadi bila di dalamnya sastrawan berhasil mempergunakan kata-kata sehari-hari yang umum. Sebenarnya anggapan masyarakat bahwa para penyair memiliki bahasa khusus yang hanya untuk para sastrawan dan terlepas dari perbendaharaan bahasa umum adalah salah. Hal itu terbukti dari sajak-sajak Sitor Situmorang, seorang penyair angkatan ’45 yang menggunakan bahasa sehari-hari.
            LAPANGAN PAGI
            Sukabumi
            Di depan penginapan banyak cemara
            Ada bunga dan ada lapangan sunyi
            Di belakang jalan turun ke kali
            Di belakang sekali jalan besar ke kota
            ........
                                                ( 1980:253 )
                Kosakata dalam bait di atas merupakan kata-kata yang sering kita gunakan dalam berkomunikasi. Bahasanya mudah dimengerti dan sudah umum. Penggunaan bahasa sehari-hari dapat memberi efek gaya yang realistis (Pradopo, 1987:53).
            Pada angkatan ’45 para penyair begitu cermat dalam memilih kata atau kalimat untuk menciptakan puisi. Sebagai contoh adalah sajak “Aku” karya Chairil. Dalam Kerikil Tajam judulnya “Semangat”, sedangkan dalam Deru Campur Debu berjudul “Aku “. Perbedaan judul tersebut digunakan demi keberadaan puisi. Kata “semangat” mengandung makna yang menyala-nyala dan terkesan bersifat propagandis, bombastis, dan berlebihan. Sedangkan kata “Aku” terkesan individualis karena menunjukkan kepribadian penyair. Jadi, pada saat itu kata “semangat” lebih tepat digunakan sebagai judul untuk mengelabuhi sensor jepang karena puisi yang bersifat individualis sangat dilarang.
            Selain itu kata ‘ku tahu’ pada baris kedua bait pertama diganti ‘ku mau’.

            SEMANGAT
            Kalau sampai waktuku
            Ku tahu tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
                                    ( Kerikil Tajam, hal 15 )


Aku
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
                                    ( Deru Campur Debu, hal 7 )
            Penggantian kata tersebut disesuaikan dengan keseluruhan sajak. Kata ‘ku tahu’ menunjukkan perasaan pesimistis dan rasa keterpencilan. Suasana sajak terkesan melankolik. Hal ini tidak sesuai dengan bait-bait selanjutnya yang penuh semangat dan rasa vitalitas yang menyala. Jadi kata tersebut  dirasa kurang tepat dan digati ku kau yang menunjukkan kemauan pribadi yang kuat, cara mmendeklamasikannya dengan penuh vitalitas dan tidak melankolis lagi.
            Denotasi dan oknotasi merupakan unsur diksi dalam menulis puisi. Denotasi, yaitu arti yang menunjuk dan konotasi adalah bahasa tambahannya( Pradopo, 1987:58 ). Denotasi sebuah kata adalah pengertian yang menunjuk pada suatu hal atau benda yang diberi nama dengan kata itu. Misalnya sajak Sitor  Saitumorang berikut :
.......
elang laut telah
Hilang ke luas kelam
Topan tiada bertanya
Hendak kemana dia
Dan makhluk kecil yang membangkai di bawah
Pohon eru, tiada pula akan berkata,
“ibu kami tiada pulang”
            Dalam cuplikan sajak di atas kita menemukan kata ‘elang’, ‘hilang’, ‘makhluk kecil’, ‘membangkai’, dan ‘tiada pulang’. Jika ditinjau dari makna denotatifnya, elang berarti burung. Tetapi jika kita baca bait puisi tersebut dan memahami maknanya. Kita akan tahu bahwa kata-kata dalam puisi tersebut memiliki makna lain, makna yang didapat dari asosiasi perasaan. Makna tersebut dinamakan makna konotasi. Makna konotasi dari bait puisi. Di tas itu ada elang laut diibaratkan sebagai lelaki( penyair itu sendiri). Ia rindu akan tanah air, tetapi ia takut gadis pujaannya yang sedang hamil akan mati merana karena ditinggal pergi. Ia pun tak bisa pulang ke tanah air

Imajeri

            Pradopo (1987:79) menyatakan bahwa untuk memberi gambaran yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus, untuk membuat lebih hidup gambaran dalam pikiran dan penginderaan dan juga untuk menarik perhatian, penyair menggunakan imajeri disamping alat kepuitisan yang lain. Jadi, citraan adalah gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya. Citraan biasanya lebih mengingatkan kembali daripada membuat baru kesan pikiran.
            Dalam makalah ini ada 3 citraan yang akan dikaji. Citraan yang timbul oleh penglihatan atau disebut citraan penglihatan ( visual imagery ), citraan yang timbul oleh pendengaran atau disebut citraan pendengaran ( auditory imagery ), dan citraan yang timbul oleh rabaan atau disebut citra perabaan ( tactil imagery ).
            Citraan penglihatan memberi rangsangan pada indera penglihatan, hingga sering hal-hal yang tak terlihat jadi seolah-olah terlihat. Sebagai contoh pada sajak berikut, pada sajak Chairil Anwar :
            Bersandar pada tari warna pelangi
            Kau depanku bertudung sutra senja
            Di hitam matamu kembang mawar dan melati    imaji visual
            Harum rambutmu mengalun bergelut senda
                                                            (1959:19)
            Pada baris pertama seolah-olah kita bisa melihat warna-warni yang indah ;
            Pada baris kedua seolah-olah kita bisa melihat sesuatu di depan kita ; dan
            Pada baris ketiga seolah-olah kita bisa melihat mawar dan melati di matanya.
            Citraan pendengaran dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara. Penyair yang banyak menggunakan citraan ini disebut penyair auditif. Citraan pendengaran biasanya berupa onomatipe. Pada puisi angkatan ’45 ditemukan dalam puisi “siapa?” karya Waluyati, seorang penyair wanita pada angkatan tersebut. Berikut ini kutipan puisinya :
            Siapa ?
            Tersebar engkau, kaum sengsara
            Duduk meratap di seluruh kota
            Dan suara tangismu membumbung, memilukan hati
            ...........
                                                            (tonggak I , 1987)
            Ketika membaca bait puisi di atas, seolah-olah kita mendengar ratapan dan tangisan para kaum sengsara dan hal itu sangat memilukan hati.
            Selain citraan penglihatan dan pendengaran, citraan perabaan sering pula digunakan penyair dalam puisinya. Misalnya pada puisi “Lagu Gadis Itali” karya Sitor Situmorang. Berikut kutipan puisinya :
            Lagu Gadis Itali
            ........
            Batu tandus di kebun anggur
            Pasir teduh di bawah nyiur                    
            Abang lenyap hatiku hancur                  imaji taktil
            Mengejar bayang di salju gugur
                                    (1965 : 117)
            Dalam bait puisi di atas, seolah-olah kita merasakan batu yang tandus, pasir yang teduh, hati yang hancur, dan salju yang gugur. Citraan ini menimbulkan efek seolah-olah pembaca merasakan sesuatu yang disebutkan.
Bahasa Kias
Bahasa kias adalah salah satu unsure kepuitisan untuk mendapatkan kepuitisan. Bahasa kias menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kejelasan gambaran angan. Bahasa kias ini mengiaskan sesuatu hal dengan hal lain supaya gambaran menjadi lebih jelas, lebih menarik dan hidup (Pradopo, 1987 : 62)
Bahasa kias banyak sekali ragamnya. Kali ini, akan dibahas jenis bahasa kias yaitu simili, metafora, personifikasi, metonimia, dan sinekdok.
Simili ialah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan kata-kata pembanding seperti: bagai, sebagai, bak seperti, semisal, seumpama, laksana, sepantun, penaka, se, dan kata-kata pembanding yang lain.(Pradopo, 1987 : 62) misalnya pada puisi ”Orang Dari Gunung” karya Asrul Sani berikut:
Orang Dari Gunung
........
dan bersiul seperti lengking harimau
.........
                                    (Gema Tanah Air,1987:)
Metafora adalah bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak menggunakan kata- kata pembanding seperti, bagai, laksana, seperti dan laksana. Misalnya dalam puisi berikut :
Aku
.......
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulan terbuang
........                               
                                      ("kerikil tajam", 1946)
Dalam sajak di atas, "aku" diumpamakan atau dimetaforakan sebagai binatang jalang. Selain itu, metafora dapat ditemukan dalam sajak waluyati yang berjudul "berpisah" berikut kutipannya:
            Berpisah
            Bersama- sama bunga digubah
            Menjadi rangkaian halus pewangi
            Dan pulang kita bersuka hati
            Dikala surya terbenam merah
            .....
                                                           (tonggak 1, 1987)
"bunga" dalam sajak di atas diumpamakan sebagai cinta yang indah antara dua insan

           
            Personifikasi. Bahasa kias ini mempersamakan benda dengan manusia, benda- benda mati dibuat seolah- olah bisa bertindak seperti manusia. Personikasi ini membuat hidup lukisan, di samping itu memberikan kejelasan paparan, memberikan bayangan angan yang konkret (Pradopo, 1987 : 75). Misalnya yaitu pada puisi anak "anak laut" karya asrul sani, berikut kutipannya :
            Anak laut
            .......
            Pasir dan air seakan
            Bercampur awan
            Tanda menutup
            Mata dan hatinya rindu
            Melihat laut terlentang biru
            .........
                                              (gema tanah air,1987 : 10 )
Dalam sajak di atas, seolah- olah awan memiliki mata dan hati. Padahal awan adalah benda yang tidak mungkin memiliki hal- hal seperti itu layaknya manusia.
           
            Metonimia dalam Bahasa Indonesia sering disebut kiasan pengganti nama. Bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungan dengannya untuk menggantikan objek tersebut (Pradopo, 1987 : 62). Pada puisi angkatan ’45 jarang yang menggunakan majas ini. Namun majas ini dapt kita temukan pada puisi ”Sorga” karya Chairil A. pada larik keempat
            ........
yang kata Masyumi +Muhammadiyah bersungai susu
            ..........
                                                            (Gema Tanah Air,1987:)                     

            Sinekdok adalah bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting suatu benda(hal) untuk benda atau hal iu sendiri (Pradopo, 1987 : 78). Sinekdok ada 2 macam, yaitu pars pro toto (sebagian untuk keseluruhan) dan totem proparte (keseluruhan untuk sebagian)
            Sinekdok pars prototo dapat dijumpai dalam puisi "cerita buat dien tamaela" karya chairil anwar berikut kutipannnya :
            Cerita Buat Dien Tamaela
            Beta pattirajawane
            Yang dijaga datu- datu
            Cuma satu

            Beta pattirajawane
            Kikisan laut
            Berdarah laut
            .......
                                     ( jakarta, 1946 )
Dalam sajak di atas "Beta Pattirajawane"  disebutkan berulang- ulang. Tokoh ini merupakan pars prototo bagi bangsa indonesia seluruhnya.
            Sinekdok totem pro parte dapat dijumpai dalam puisi "sebuah kamar" karya chairil anwar berikut kutipannya :
            Sebuah Kamar
            Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
            Pada dunia bulan yang menyinar ke dalam
            Mau lebih banyak tahu
            'sudah lima anak bernyawa di sini,
            Aku salah satu!'
            ...........
                                        (DCO, 1959 :23)
Pada baris pertama sajak diatas disebutkan bahwa kamar telah di serahkan pada dunia "dunia" ini merupakan totem pro parte dari sebagian orang.
Sarana Retorika
            Sarana retorika merupakan sarana kepuitisan yang berupa muslihat pikiran. Dengan muslihat itu, para penyair berusaha menarik perhatian, pikiran, hingga pembaca berkontlempasi atas apa yang dipikirkan penyair (Pradopo, 1987 : 94) pada umunya sarana retorika ini menimbulkan ketegangan puitis karena pembaca harus memikirkan efek apa yang ditimbulkan dan dimaksudkan oleh penyair.
            Ada berbagai macam sarana retorika setiap periode atau angkatan sastra memiliki sarana digemari, bahkan penyair memiliki kekhususan dalam menggunakan dan memilih sarana retorika dalam sajak- sajaknya, corak dan jenis sarana retorika tiap periode tersebut sesuai dengan gaya sajaknya, aliran, paham, serta konvensi dan konsepsi estetikanya.
            Angkatan 1945 menganut aliran realisme dan ekspresionisme, sehingga banyak menggunakan sarana retorika yang bertujuan intensitas dan ekspresivitas. Diantaranya hiperbola, ironi, dan paralelisme.
            Hiperbola yaitu sarana retorika yang melebih- lebihkan suatu hal atau keadaan (Pradopo, 1987 : 98). Misalnya dalam puisi "Kepada Peminta- Minta" karya Chairil Anwar, berikut puisinya :
            Kepada Peminta- Minta
            ............
            Jangan lagi kau bercerita
            Sudah tercacar semua di muka
            Nanah meleleh dari muka
            Sambil berjaln kau usap juga
            ............
                                           (1959 : 17)
'nanah' merupakan suatu hal yang menyakitkan, penyakit yang menjijikan itu bertambah parah saat diikuti kata meleleh.
            Ironi yaitu majas yang melukiskan sesuatu dengan maksud untuk menyindir orang, Sarana retorika ironi ditemukan pada puisi 'sebuah kamar' karya chairil anwar berikut :
            Sebuah Kamar
            Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
            Pada dunia bulan yang menyinar ke dalam
            Mau lebih bayak tahu
            'sudah lima anak bernyawa di sini,
            Aku salah satu!
            .............
                                    (DCO, 1959 :23)
Sajak di atas merupakan sindiran terhadap orang yang ingin mengetahui rahasia rumah tangganya, maka si aku membukanya sekali bahwa dalam kamarnya yang sempit itu didiami 5 orang anak, telah lahir 5 orang anak di kamar itu
            Paralelisme yaitu mengulang isi kalimat yang maksud tujuannya serupa kalimat yang berikut hanya dalam satu atau dua kata berlainan dari kalimat yang mendahului (Pradopo, 1987 : 97). Pada sajak angkatan 45, dijumpai penggunaan paralelisme dalam sajak 'Pangkuan' karya Asrul Sani, berikut :
            Pengakuan
            ...........
            Perawan ringan, perawan riang
            Berlagulah dalam kebayangan
            Berupa warena
            Berupa waren
            Dan berlupalah sebentar akan kehabisan umur
            Marilah bermain,
            Marilah berjalin tangan,
            ...............
indonesia, th. 1 no. 7, agustus 1949


Karakteristik Bentuk
Perulangan Bunyi
            Rima merupakan persamaan bunyi di akhir atau di dalam larik-larik puisi.
Pada angkatan ’45 hanya sedikit puisi yang berima. Puisi-puisi pada angkatan ’45 lebih mementingkan isi daripada bentuk. Penyair angkatan ’45 ingin lepasa dari pengaruh Pujangga Baru yang mementingkan bentuk. Namun puisi yang berima dapat kita temukan pada puisi ”Si Anak Hilang” karya Sitor Situmorang berikut ini:
            Pada terik tengah hari
            Titik perahu timbul di danau
            Ibu cemas ke pantai berlari
            Menyambut anak lama ditumggu
            .............
bait puisi di atas terdapat rima abab.

            Selain rima pada puisi-puisi angkatan ’45 juga terdapat aliterasi. Aliterasi adalah perulangan bunyi konsonan. Contoh aliterasi dapat kita temukan pada puisi ‘Siapa’karya Waluyati berikut:
            …….
            sedangkan di gelap tangkai menjulang
            ….....
pada puisi di atas terdapat aliterasi vokal /a/ dan konsonan /ng/.
Asonansi adalah perulangan bunyi vokal. Pada angkatan ’45, asonansi dapt kitatemukan pada puisi ‘Nanti,Nantikanlah’ karya Waluyati,
            …….
            Gemetar tampak hawa panas
            …….
pada puisi di atas terdapat asonansi vokal/a/.
Versifikasi
Bentuk bebas
Pada angkatan ’45  banyakterdapat puisi yang bentuknya tidak seperti bentuk puisi pada Pujangga baru. Contoh puisi yang bentuknya bebas terdapat pada puisi “cakar atau ekor” karya Mahatmanto berikut ini:
                        Cakar atau Ekor
            Di mana batas?
            ……semua hendak serba bebas……
            melanggar
            meliar…….

            Bukankah setiap selalu hendak serba baru
            Jadi penipu, memalsu?
            Serba aksi
            Jadi terasi?serba kuasa
Jadi memerkosa?

Ah, hanya pun kiri,
Kalau selalu hendak serba kiri 
            paling kiri dari yang terkiri,
            di sana sayap jadi cakar……
            Sebaliknya pun; kanan,
            Kalau serba paling terkanan,
            di sana sayap jadi ekor.
Karakteristik Isi
Tema
            Tema adalah gagasan pokok (subject-matter) yang dikemukakan oleh penyair mela;ui puisinya. Tema mengacu pada penyair. Pembaca sedikit banyak harus mengetahui latar belakang penyair agar tidak salah menafsirkan tema puisi tersebut. Karena itu, tema bersifat khusus (diacu dari penyair), objektif (semua pembaca harus menafsirkan sama), dan lugas (bukan makna kias yang diambil dari konotasinya) (Waluyo : 2003).
            Tema yang banyak diangkat pada angkatan ’45 adalah tema tentang perjuangan hidup. Hal ini disebabkan karena pada masa itu telah terjadi penjajahan Jepang. Pada masa itu rakyat berjuang untuk bebas dari penjajahan. Tema perjuangan dapat ditemukan pada beberapa puisi seperti puisi “Diponegoro” dan ”Kerawang Bekasi” (Chairil Anwar). Berikut ini kutipan puisi “Kerawang Bekasi” (Chairil Anwar) :
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak merdeka dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa mem perhitungkan arti 4-5 ribu jiwa

Kami Cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat

Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
                                    (Yang Terampas dan Yang Putus, Pustaka Rakyat, 1949)
Dari puisi di atas kita dapat merasakan bahwa para pahlwan mengutarakan jeritan hati mereka sebagai orang-orang yang rela mati muda di medan perang antara Karawang-Bekasi walaupun tidak bisa berjuang sampai merdeka. Mereka berjuang semampu mereka sampai kini mereka telah menjadi mayat yang bahkan dilupakan oleh banyak generasi muda. Dalam puisi di atas para pahlawan meminta kita menghargai, mengenang, dan meneruskan perjuangan mereka.
Selain tema perjuangan atau patriotisme, dalam angkatan ’45 ada pula yang mengangkat tema lain seperti tema percintaan pada puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” (Charil Anwar), “Lagu Gadis Itali” (Sitor Situmorang)dan tema pendidikan/budi pekerti pada puisi “Surat dari Ibu” (Asrul Sani).
Nada dan Suasana Puisi
            Selain tema, dalam puisi juga diungkapkan nada dan suasana kejiwaan. Nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca. Dari sikap itu terciptalah suasana puisi. Ada puisi yang bernada sinis, protes, menggurui, memberontak, main-main, serius, patriotik, memelas, takut, mencekam, santai, masa bodoh, pesimis, humor, mencemooh, kharismatik, filosofis, khusyuk dan sebagainya ( Waluyo : 2003).
            Dalam angkatan ’45 dapat kita lihat misalnya pada puisi “Derai-Derai Cemara” (Chairil Anwar) yang bernada pasrah berikut ini :
            Cemara menderai sampai jauh
Hari terasa akan menjadi malam
Ada beberapa dahan ditingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam.

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah lama bukan kanak lagi
Tapi ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini.

Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah



PEMBAHASAN

Beberapa Contoh Apresiasi Sajak Angkatan ’45 dengan Pendekatan Analitik dan Ekspresif
Analisis sajak Senja Di Pelabuhan Kecil
SENJA DI PELABUHAN KECIL
Buat Sri Ajati  
(karya Chairil Anwar)
Ini kali tidak ada yang mencari cinta                                      1
di antara gudang, rumah tua pada cerita                                 2
imaji visual      majas personifikasi
tiang serta temali. Kapal, perahu tidak berlaut                       3
imaji visual                                          imaji kinetik
menghembus diri dari dalam mempercaya mau berpaut         4
imaji kinetik,taktil                                       imaji taktil

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang           5
 imaji taktil,majas hiperbolisme               imaji visual
menyinggung muram, desir hari lari berenang                        6
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak                     7
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.                             8
              majas metaphora    imaji visual

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan                                            9
                                       imaji kinetik
Menyisir semenanjung, masih pengap harap                           10
imaji kinetik,majas metafora   imaji taktil
Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan                       11
                imaji visual

           
Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.          12
           imaji visual           imaji taktil       imaji kinetik

Dalam puisi “Senja di pelabuhan kecil” ini terdapat tiga bait dan tiap baitnya terdiri dari sejumlah kata, yang tersusun menjadi empat baris. Susunan puisi yang terdiri dari empat baris dalam tiap baitnya ini disebut kuatrin. Berdasarkan susunan kata dan jumlah barisnya ini menunjukkan puisi ini adalah puisi yang bebas yang tidak terikat oleh jumlah bait dan baris dalam puisi lama.
Dengan citraan seolah-olah apa yang dilukiskan pengarang dalam bentuk kata-kata tersebut, terjadi sungguh pada diri pembaca, sehingga pembaca ikut merasakan nilai puisi tersebut.
Pada bait pertama terdapat majas personifikasi, “rumah tua pada cerita”, pengarang mengekspresikan kesendirian dengan ungkapan benda mati yang membisu, seharusnya yang bercerita adalah seseorang, tetapi tidak ditemukan seorangpun yang melakukannya. Selanjutnya pada “perahu tiada berlaut ” banyak perahu yang bersandar pada dermaga, tandanya para awak kapal sedang berlabuh dan meninggalkan kapalnya bersandar. Penyair merasakan kebimbangan dengan perasaannya.
Pada bait kedua terdapat majas hiperbolisme dalam “gerimis mempercepat kelam” kata kelam biasanya berarti kegelapan, suatu suasana yang tidak menyenangkan ditambah lagi dengan gerimis, hal ini menambahkan keadaan yang sangat menyeramkan. “kelepak elang” berarti kepakan sayap dari burung elang, perasaan penyair pada saat itu sangatlah tertekan seakan-akan telah di awasi oleh pemburu (elang) yang akan memangsanya. Pada kata “desir hari lari berenang”, kesedihan pengarang sangatlah dalam seakan ia telah melupakan semua yang ada disekitarnya, “tanah dan air tidur hilang ombak”, ‘ombak’ biasanya berarti gejolak air laut karena angin, tetapi diungkapkan telah tidur ini mengisyaratkan majas metaphora yang berarti mati atau kondisi alam ikut merasakan kesedihanya.
Pada bait terakhir yakni bait ketiga, akhir dari kesedihanya, dimana majas metafora dituangkan pada “menyisir semenanjung” menyisir berarti merapikan rambut tetapi disatukan dengan semenanjung, hal ini diartikan ketertarikan penyair setelah sekian lama mencari dan menjelajah, akhirnya menemukan seseorang yang dinantikannya, namun harus berpisah, dan hanya tangisan yang mendalam, “sedu penghabisan bisa terdekap”, terdekap berarti sesuatu yang telah dipegang dan dipeluk, tetapi disatukan dengan perasaan sedih yakni “sedu penghabisan” tangisan terakhir.
Chairil Anwar dalam karya-karyanya bercirikan permainan bunyi bahasa dalam aliterasi dan asonansi secara kuat dan efektif. Dalam sajak “Senja di Pelabuhan Kecil” ini digunakan sarana kepuitisan untuk mendapatkan dan memperkuat efek secara bersama-sama, dalam penggarapan suasana yang sepi ditepi laut di gunakan bunyi vocal a, dan bentuk pengulangan bunyi i dan u, /…senja senyap/…manepis buih// mengurai puncak// penegasan suasana galau, gelisah tampak jelas pada tiga bait terakhir dimana banyak penekanan pada vocal a dan u yang berat.
            Kalau kita perhatikan dalam bait 1, 2, di puisi ini Chairil Anwar menggunakan rima kembar/berpasangan, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir dua larik puisi (aa-bb), yakni menggunakan rima aa-bb pada /mencari cinta// pada cerita/ tidak berlaut//mau berpaut//, elang/ berenang//, tidak bergerak/ ombak//, tetapi baru terjadi perubahan pada bait 3 ia menggunakan rima bersilang dengan paduan bunyi yang sama pada akhir kata tiap larik, pada; berjalan/ harap//, jalan/ terdekap//.
         Penggunaan aturan puisi lama masih terdapat pada puisi ini yakni penggunaan rima yang beraturan ab-ab, pada tiap baitnya hal ini disebut dengan rima bersilang.
Puisi ”Senja Di Pelabuhan Kecil” ini adalah salah satu puisi yang bersifat inspiratif yakni puisi yang diciptakan berdasarkan mood atau suasana bathin chairil anwar yang sedang patah hati terhadap Sri Ajati, gadis belia yang masih berusia 20-an tahun dan menjadi dambaan Chairil.
Kemuraman Chairil akibat patah hati amat terasa dalam puisi ini. Diksi-diksi: gudang, rumah tua, kapal perahu tiada berlaut. Gerimis mempercepat kelam, muram, air tidur hilang ombak, aku sendiri, pengap harap, selamat jalan, sendu penghabisan. Merupakan komposisi yang sedemikian rupa disusun untuk menggambarkan suasana hati yang muram dan patah. Segalanya jauh dari kata bombastis yang meledak-ledak.
Namun, tak seluruhnya Chairil menggambarkan pesona wanita dan cinta dengan romantisme yang teduh dan halus. Sedangkan yang dimaksud Chairil dengan ’Senja Di Pelabuhan Kecil’ itu adalah senja di Pelabuhan Sunda Kalapa, tempat yang syarat dengan peristiwa sejarah.

Apresiasi Puisi “Surat dari Ibu” karya Asrul Sani dengan Pendekatan Analitis  dan Ekspresif

Surat dari Ibu

Pergi ke dunia luas,     anakku sayang                                    1
Konkret,visual             konkret,
Pergi ke hidup bebas                                                               2
visual
Selama angin masih angin buritan                                           3
                                    konotatif
Dan matahari pagi menyinar daun-daunan                             4
Visual. Konkret       
Dalam rimba dan padang hijau                                               5
            konkret

Pergi ke laut lepas,anakku sayang                                           6
Visual, konkret
pergi ke alam bebas!                                                                7
visual

selama hari belum petang                                                        8
            visual
dan warna senja belum kemerah-merahan                              9
            visual
menutup pintu waktu lampau                                                 10
                        visual

jika bayang telah pudar                                                           11
            visual
elang laut pulang ke sarang                                                     12
visual,konkret
angin bertiup ke benua                                                            13
konkret
tiang-tiang akan kering sendiri                                                14
visual, konkret
dan nahkoda sudah tahu pedoman                                         15
konkret
boleh engkau datang padaku!                                                 16
            Visual,konkret

Kembali pulang, anakku sayang                                             17
                                    taktil
Kembali ke balik malam!                                                        18
visual
jika kapalmu telah rapat ke tepi                                              19
            visual
kita akan bercerita                                                                   20
visual, auditif
tentang cinta dan hidupmu pagi hari                                      21
            taktil
                        (Tonggak I, 1987)

Selain analisis yang terirai di atas dalam puisi Elang Laut juga dapat ditemukan bahwa pemakaian bahasa kias di dalamnya sangatlah sedikit. Terbukti hanya ditemukan satu saja yaitu metonomi pada kata elang laut. Selain itu pemakaian sarana retorika juga sangat sedikit. Hanya ditemukan beberapa yaitu antitesis pada baris tiang-tiang akan kering. Kemudian terdapat klimaks pada tiang-tiang akan kering sendiri dan nahkoda sudah tahu pedoman. Ada pula antiklimaks pada boleh engkau datang padaku. Selain itu terdapat dua repetisi yaitu pada pergi ke dan kembali.
            Makna yang tersirat dari puisi elang laut dapat kita artikan bahwa masa muda adalah masa yang dapat kita gunakan untuk melakukan berbagai macam kesempatan yang masih banyak menanti kita. Hal itu dapat dibaca pada lima baris bait pertama. Kemudian pada bait ke dua dapat kita maknai bahwa kesempatan yang tersedia untuk kita di masa muda amat luas selama kita mau memanfaatkan. Maka bila diibaratkan pada masa muda anak-anak bisa merantau sejauh apa pun untuk meraih cita-citanya, pada bait ketiga dan empat dimaknai bahwa kalau sudah hampir habis masa muda dan hidupnya telah sukses, ibu mengharapkan kepulangan anaknya. Ibu akan dengan gembira menyambut kepulangan anaknya
            Dari penguraian-penguraian di atas dapat kita ketahui bahwa tema puisi ini adalah tentang perjuangan hidup seorang anak (mungkin anak pantai atau daerah pesisir)yang mengadu nasibnya meninggalkan daerahnya. Nada dan suasana puisi ini adalah haru terutama karena ini dituliskan sebagai sebuah surat dari seorang ibu. Perasaan yang ada dalam puisi ini adalah tegar dan kuat dalam menghadapi hidup. Amanat yang dapat kita ditangkap adalah kita harus menjalani kehidupan dengan semangat dan berani untuk meraih cita-cita kita selagi masih muda dan banyak kesempatan.

Analisis puisi Elang Laut karya Asrul Sani dengan menggunakan pendekatan analitik dan ekspresif

            Elang Laut

Ada elang laut terbang                                                1
kata konkret,imaji visual                                    
senja hari                                                                     2
kata konkret,imaji visual
antara jingga dan merah                                             3
kata konkret,imaji visual
surya hendak turun                                                     4
kata konotasi,imaji visual,majas personifikasi
pergi ke sarangnya                                                      5
kata konotasi, imaji visual,majas personifikasi

Apakah ia tahu juga,                                                   6
kata konkret, imaji taktil,
bahwa panggilan cinta                                                7
kata konotasi, imaji auditori,imaji taktil
tiada ditahan kabut                                                     8
kata konkret,imaji visual
yang menguap pagi hari?                                            9
kata konkret,imaji visual

Bunyinya menguak suram                                          10
kata konkret, imaji auditori,majas personifikasi
lambat-lambat                                                             11
kata konkret, imaji auditori,majas personifikasi
mendekat, ke atas runjam                                           12
kata konkret,imaji visual
karang putih,                                                               13
 kata konkret,imaji visual
makin nyata                                                                14
kata konkret,imaji visual
Sekali ini jemu dan keringat                                       15
kata konkret,imaji visual,imaji taktil
tiada akan punya daya                                                16
kata konkret,imaji taktil
tapi topan tiada mau                                                   17
kata konkret,imaji visual
dan mengembus ke alam luas                                     18
kata konkret,imaji visual

Jatuh elang laut                                                           19
kata konkret,imaji visual,imaji auditori
ke air biru,tenggelam                                                  20
kata konkret,imaji visual
dan tiada timbul lagi                                                   21
kata konkret,imaji visual

Rumahnya di gunung kelabu                                      22
 kata konkret,imaji visual
akan terus sunyi                                                          23
kata konkret,imaji auditori
Satu-satu akan jatuh membangkai                              24
kata konkret,imaji visual
ke bumi, bayi-bayi kecil tiada                         25
kata konkret,imaji visual
bersuara                                                                      26
kata konkret,imaji auditori

Hanya anjing,                                                             27
kata konkret,imaji visual
malam hari meraung menyalak bulan                         28
kata konkret,imaji auditori
yang melengkung sunyi.                                             29
kata konkret,imaji auditori

Suaranya melandai                                                     30
kata konkret, imaji auditori,majas depersonifikasi
turun ke pantai                                                            31
kata konkret,imaji visual
Jika segala                                                                   32
kata konkret
senyap pula,                                                                33
kata konkret,imaji auditori
berkata pemukat tua,                                                   34
kata konkret,imaji auditori
“anjing meratapi orang mati!”                                    35
kata konkret,imaji auditori,majas depersonfikasi


Elang laut telah                                                           36
kata konkret,imaji visual
hilang ke lunas kelam                                                 37
kata konotasi,imaji visual
topan tiada bertanya                                                   38
kata konotasi, imaji auditori
hendak kemana dia.                                                    39
kata konkret,imaji visual
Dan makhluk kecil                                                      40
kata konkret,imaji visual
yang membangkai di bawah                                       41
kata konkret,imaji visual
pohon eru, tiada pula akan                                         42
berkata,                                                                       43
kata konkret,imaji auditori
“ibu kami tiada pulang.”                                             44
kata konkret,imaji visual

Berdasarkan hasil analisis puisi ‘Elang Laut’ karya Asrul Sani tersebut, kita dapat mengetahui bahwa dari segi bahasa, diksi yang digunakan sebagian besar adalah kata konkret. Hal itu sesuai dengan cirri puisi angkatan 45 yang beraliran realisme dengan menggunakan kata-kata sehari-hari. Citraan atau imaji yang digunakan adalah imaji visual(penglihatan). Pada puisi tersebut hanya sedikit yang menggunakan majas atau bahasa kias karena sesuai dengan karakteristik puisi  angkatan 45 yang menggunakan bahasa sehari-hari. Meskipun demikian dalam puisi tersebut terdapat majas personifikasi dan depersonifiakasi. Majas personifikasi misalnya terdapat pada bait pertama baris keempat, surya berarti matahari yang merupakan makhluk tak bernyawa melakukan kegiatan yang biasa dilakukan oleh makhluk bernyawa yaitu turun.
Dari segi bentuk, puisi elang laut tidak terikat oleh pembagian bait, baris,dan persajakan. Pembagian baris dalam tiap bait tidak beraturan. Pada bait pertama terdiri dari 5 baris, bait kedua 4 baris, bait ketiga 9 baris, bait keempat 3 baris, bait kelima 5 baris, bait keenam 6 baris, bait ketujuh 6 baris, dan bait kedelapan 9 baris. Dalam puisi tersebut terdapat perulangan bunyi konsonan (aliterasi) dan perulangan bunyi vokal (asonansi). Contoh aliterasi terdapat pada bait pertama baris ketiga /antara jingga dan merah/. Pada bait bait tersebut terdapat asonansi vokal a. Sedangkan contoh aliterasi terdapat pada bait ketiga baris kedelapan /tapi topan tiada mau/. Pada bait tersebut terdapat perulangan konsonan t.
Dari struktur isi, puisi tersebut bertema tentang perjuangan hidup seorang lelaki. Perasaan yang terkandung dalam puisi tersebut adalah suasana keberanian karena tanpa kenal lelah berjuang untuk kehidupan keluarganya. Suasana haru dan sedih karena kehilangan orang yang sangat berarti. Amanat yang ingin disampaikan oleh penyair adalah janganlah kita mudah menyerah untuk menghidupi keluarga kita. Karena jika kita mudah menyerah akan membawa bencan pada keluarga kita.
Pada bait pertama, /elang laut/ diibaratkan sebagai seorang lelaki yang gagah, pemberani, dan bertangung jawab. Ia berjuang untuk kehidupan keluarganya tanpa rasa lelah. Pada bait kedua menggambarkan ‘si lelaki’ menglami berbagai hambatan dalam usahanya. Meskipun demikian, karena kecintaannya pada keluarga, ia terus berjuang dan bertahan. Hal tersebut terungkap pada baris ketujuh. Pada bait ketiga baris ke-10 dan ke-11 menggambarkan ‘si lelaki’ merasa lelah dan mengakibatkan ia jatuh. Meskipun ia sudah berusaha sekuat tenaga tapi usahanya sia-sia yang diungkapkan pada baris ke-15 dan ke-16.
Pada bait keempat baris ke-19 bermakna kegagalan ‘si lelaki’ dalam berjuang hidup. Hidup ini penuh dengan kekerasan dan membutuhkan perjuangan. Jika tidak dapat bertahan menghadapi persaingan, akan kalah dan hancur. Pada bait kelima baris ke-24, bermakna kegagalan ‘si lelaki’ akan menyebabakan malapetaka bagi keluarganya. Pada baris ke-25 dan 26 bermakna umahnya akan sunyi dan tiada kegembiraan dalam rumah itu.
Pada bait keenam dan ketujuh ketika si lelaki semakin tenggelam, kerabat-kerabatnya akan merasa sedih karena kehilangan orang yang dicintai. Mereka merasa sunyi. Kesunyian yang mereka rasakan saat meratapi orang yang telah tiada. Pada bait kedelapan  memiliki maksud setelah peristiwa yang mereka alami, mereka pun pasrah dengan musibah yang menimpa mereka. Suasan haru dan pasrah menaungi  keluarga melepas kepergian ‘si lelaki’.

Apresiasi Puisi “CATETAN TH. 46” karya Chairil Anwar dengan Pendekatan Analitik dan Pendekatan Ekspresif

Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,                                           1
kata konotasi, imaji visual, imaji taktil
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,                                2
kata konotatif, imaji visual
Dan suara yang kucintai ‘kan berhenti membelai.                              3
kata konotatif, imaji auditif, imaji taktil
Ku pahat batu nisan sendiri dan kupagut                                           4
kata konkret, imaji visual

Kita – anjing diburu – hanya melihat sebagian sandiwara sekarang. 5
kata konotatif, imaji visual
Tidak tahu Romeo dan Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang        6
kata konkret, imaji visual, imaji taktil
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu                                 7
kata konotatif, imaji visual
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.                              8
kata konkret, imaji visual

Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu                                               9
kata konotatif, imaji taktil
Jika bedil sudah disimpan, Cuma kenangan berdebu                         10
kata konotatif, imaji visual, imaji taktil                                               
Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir sempat,           11
kata konotatif, imaji visual, taktil                                                        
Karena itu jangan mengerdip, tetap dan penamu asah,                      12
kata konotatif, imaji visual, imaji taktil
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah! 13
kata konotatif, imaji visual, imaji taktil

Untuk mengemukakan ide abstrak, dalam puisi ini digunakan bahasa-bahasa kiasan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai makna dan amanat yang ingin disampaikan. Pada bait pertama puisi “CATETAN TH. 46” ditemukan majas sinekdoki pars pro toto yaitu pada kata ‘tangan’. Tangan di sini mewakili seluruh bagian tubuh si aku. Selain itu, majas ini juga di temukan pada /….suara yang ku cintai…/. Suara di sini mewakili orang-orang yang dicintai oleh si aku seperti anak, istri, ibu atau suara-suara kehidupan yang membuatnya hidup. Pada baris kelima ditemukan majas metafora. Dalam kata-kata itu kita diibaratkan sebagai anjing yang diburu, dengan arti lain kita tidak punya waktu untuk bersantai-santai. Kata anjing juga menjelaskan kita bahwa pada saat itu sedang berada dalam situasi yang kacau.
Pada bait ke-3, perang yang telah usai  dikonkretkan melalui majas sinekdoki pars pro toto  pada /jika bedil sudah disimpan…/ dan kenangan yang penuh dengan kesedihan di metaforakan dengan /…kenangan berdebu../. Pada baris ke-11 dijumpai pula majas metafora. Kata ‘memburu’ digunakan untuk menyatakan pekerjaan mencari arti itu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Selain itu, metafora ‘kertas gersang’ di gunakan untuk menyatakan kehidupan yang masih kosong.
Untuk menciptakan keindahan dan efek-efek tertentu dalam puisi “CATETAN TH. 46” digunakan sarana retorika. Pada puisi angkatan 45 dikenal banyak menggunakan hiperbola. Dalam puisi ini pula ditemukan sarana retorika hiperbola pada baris ke-7. Pada baris itu makna yang ditimbulkan terlalu berlebihan. Selain itu pada baris ke-12 yang terdapat sarana retorika hiperbola. /Jangan mengerdip/ disini berarti kita harus berusaha penuh perhatian hingga mata pun tidak sempat mengerdip dankertas gersang’ untuk menyatakan kehidupan yang masih kosong, bersih belum diisi apapun.
Di tinjau dari persajakannya (rima), pada baris pertama  ditemukan persamaan bunyi pada akhir kalimat. Misalnya pada bait pertama memiliki rima abab. Pada bait kedua dijumpai keindahan rima akhir pada baris pertama dan kedua. Bait kedua pada puisi ini memiliki rima aabc. Pada bait terakhir memiliki rima aabcc. Puisi “CATETAN TH. 46” karya Chairil Anwar merupakan puisi baru yang tidak terikat oleh aturan-aturan puisi lama. Terlihat pada sajaknya yang cukup berantakan, yaitu bait pertama bersajak abab, bait kedua bersajak aabc, dan bait ketiga bersajak aabcc.
Dalam puisi ini digunakan pula perulangan bunyi alitrasi (perulangan bunyi konsonan) kabut-kupagut, sekarang-ranjang, asah-basah dan asonansi (perulangan bunyi vokal) terkulai-belai, diburu-berdebu. Bahasa yang dipakai adalah bahasa kias. Banyak sekali ungkapan-ungkapan yang digunakan, bahkan hampir semua kalimatnya merupakan makna konotatif. Selain itu banyak pula dijumpai gaya sinisme, sehingga untuk memahami puisi Chairil Anwar diperlukan penjiwaan yang kuat dan tidak dapat dimaknai begitu saja.
Puisi ini merupakan puisi yang bersifat patriotik. Dari judulnya saja CATETAN TH. 46, mengingatkan kita pada peristiwa kesejarahan. Untuk mengetahui makna puisi lebih jelas, akan diapresiasi dari segi semantiknya.
Misalnya pada baris pertama, kata tangan mewakili keseluruhan diri si aku. Baris ini menyatakan diri si aku yang tidak berdaya. Kata tangan dipilih karena tangan merupakan pusat dari seluruh kegiatan tubuh. Jika tangan sudah lemah, maka kegiatan tubuh pun ikut terganggu sehingga orang tak mampu bekerja dan berusaha lagi.
Pada baris kedua, pandangan si aku mulai kabur, dan tidak dapat melihat apapun yang menyenangkan. Baris ketiga bermakna si aku mulai kehilangan orang-orang yang dicintai dan segala sesuatu yang membuatnya hidup. Pada baris keempat maksudnya, si aku membuat suatu karya untuk menyatakan bahwa dirinya pernah hidup dan pernah ada di dunia. Karya tersebut diciptakan agar ia tetap dikenang orang lain meskipun telah meninggal.
Pada baris kelima, kata anjing menjelaskan bahwa kita sedang ada dalam situasi yang kacau, seperti anjing tidak mempunyai kehormatan dan dipandang rendah. Sedangkan kata diburu berarti kita tidak memiliki waktu untuk bersantai-santai, istirahat merasa gelisah dan penuh ketakutan. Dalam keadaan seperti itu, kejadian atau peristiwa yang kita lihat hanya sedikit saja. Kita tidak dapat melihat suatu peristiwa selengkapnya, tidak dapat menyaksikan kehidupan ini secara utuh.
Hal ini depertegas pada baris keenam. Seperti halnya drama Romeo dan Juliet, tidak sampai selesai sehingga kita tidak tahu mereka betemu di ranjang atau di kuburan.
Pada bait terakhir bermakna lahirnya seorang pahlawan membawa korban matinya beratus ribu rakyat. Oleh karena itulah peristiwa tersebut harus dicatat dan diingat. Setelah merdeka, kita tidak perlu takut akan penjaja Jika perang telah selesai, hanya kenangan menyedihkan yang tertinggal dan itu adalah masa lalu. Setelah perang, segalanya terserah kepada kita. Apakah kita akan bersungguh-sungguh mengejar arti hidup ini, yaitu bekerja keras, berjuang demi pribadi dan kemanusiaan atau menyerahkan nasib pada generasi penerus. Oleh karena itu jangan bersantai-santai, bekerja keraslah dan berusaha perhatian hingga tidak sempat mengerdipkan mata, yang berarti pula menyelami kehidupan dengan sungguh-sungguh. Bekerja keras untuk mengisi kehidupan yang masih kosong, belum ada isinya. Bekerja demi kehidupan dan untuk hidup di dalam kehidupan ini.
Setelah memahami makna puisi di atas, kita tahu bahwa melalui puisi tersebut penyair ingin bercerita tentang keadaan pada saat itu. Banyak sekali nilai-nilai kehidupan dan perjuangan yang terkandung dalam puisi “CATETAN TH. 46”. Puisi ini memberi tahu kita tentang keadaan saat Indonesia dijajah dan tindakan setelah kemerdekaan. Pada masa penjajahan, suasana sangatlah kacau, diselimuti rasa takut dan gelisah. Banyak korban berjatuhan hanya untuk merebut kemerdekaan. Setelah kemerdekaan diraih, kita wajib mengisinya dengan hal-hal yang positif.selalu bekerja keras dan berusaha untuk hidup. Tidak menyerahkan nasib begitu saja kepada generasi muda yang sedang memimpin pemerintahan pada saat itu. Selain itu tidak lupa pula kita harus mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan, berkat kegigihan mereka kita dapat merasakan indahnya hidup di era kemerdekaan.. 

Analisis Puisi “Diponegoro” karya Chairil Anwar dengan Pendekatan Analitik dan Ekspresif
DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini                                           1
Konkret, visual
tuan hidup kembali                                                     2
Konkret, visual

Dan bara kagum menjadi api                                      3
Konkret, visual
Di depan sekali tuan menanti                                      4
Konkret, visual
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.                5
Konkret, visual
Pedang di kanan, keris di kiri                                                 6
Konkret, visual
Berselempang semangat yang tak bisa mati.               7
Konotatif, taktil

MAJU                                                                                     8

Ini barisan tak bergenderang-berpalu                          9
Konotatif, visual
Kepercayaan tanda menyerbu.                                    10
konotatif, taktil

Sekali berarti                                                               11
konotatif, taktil
Sudah itu mati.                                                            12
            konotatif, taktil


MAJU                                                                                     13

Bagimu Negeri                                                            14
konotatif, taktil
Menyediakan api                                                         15
.           konotatif, taktil


Punah di atas menghamba                                          16
konotatif, taktil
Binasa di atas ditindas                                                            17
 konotatif, taktil
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai                        18
            konotatif, taktil
Jika hidup harus merasai                                             19
            konotatif, taktil

Maju                                                                            20
Serbu                                                                           21
Serang                                                                         22
Terjang                                                                        23

Dari hasil analisis puisi Diponegoro karya chairil anwar mempunyai beberapa ciri – ciri yaitu termasuk puisi bebas yang tidak terikat oleh pembagian bait, baris, dan persajakan {keluar dari aturan konvensional}. Termasuk aliran ekspresionisme. Puisi-puisi angkatan ’45 lebih banyak menggunakan kata – kata konkret, Pengimajinasian yang sering muncul adalah visual, namun juga ada yang menggunakan imajinasi taktil. Sedangkan majas yang digunakan adalah majas personifikasi.
Ciri berdasarkan struktur tematisnya sajak- sajaknya mempunyai eksistensi diri yaitu tentang semangat cinta terhadap tanah air, puisi ini juga menggambarkan hati sang pengarang yang ingin membakar semangat generasi muda untuk membangun negeri ini.
Puisi diponegoro adalah puisi patriotik yang bertema kebangsaan. Penyair merasa bahwa semangat dan kepahlawanan Diponegoro muncul kembali di masa pembangunan ini bagaikan api. Karena kekaguman yang besar terhadap pangeran diponegoro , maka penyair merasa mendapat semangat yang besar (bara kagum menjadi api). Meskipun lawannya lebih banyak (seratus kali),Diponegoro tetap berani. Dengan kekuatan tentara dan tradisi masyarakat (pedang di kanan, keris di kiri) semangat Diponegoro hidup bernyala- nyala (berselubung semangat yang tak bisa mati).
Penyair merasa bahwa hidup ini harus diberi arti/sekali berarti itu sudah mati/.  Meskipun pasukannya kecil dan senjatanya sederhana/tak bergendang berpalu/, keberanian Diponegoro telah memberikan api semangat kepada seluruh negeri agar berani melawan penjajah. Penyair yakin, jika pemimpin binasa atau punah, maka rakyat akan ditindas /punah di atas menghamba  binasa di atas ditinda/. Dengan mengenang Diponegoro, Penyair memberi semangat kepada para pemuda agar berjuang sekuat tenaga/maju  serbu  serang  terjang/


PENUTUP

            Puisi angkatan ’45 memiliki karakteristik yang berbeda dengan puisi-puisi angkatan sebelumnya. Pada puisi angkatan ’45 telah terjadi perubahan dari segala bentuk, baik dari struktur bentuk, isi, maupun dari segi semantiknya. Pada dasarnya, puisi-puisi pada angkatan ini bersifat patriotik.
            Dari segi bentuknya, puisi angkatan ’45 memiliki perbedaan yang mencolok. Puisi pada angkatan ini lebih bebas, tidak terikat oleh bait, baris, atau sajak. Para penyair angkatan ’45 lebih berani mengekspresikan pikirannya. Pada angkatan sebelumnya, para penyair masih dieksploitasi oleh Jepang, mereka tidak bebas dalam mengekspresikan pikiran.

DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 1984. Pengantar Memahami Unsur-Unsur Dalam Karya Sastra. Malang : Sinar baru
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang : Sinar Baru
Waluyo, Herman. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta : Erlangga
                            .2003.Apresiasi Puisi.Jakarta:Gramedia
Pradopo,Rachmat Djoko.1987.Pengkajian Puisi.Yogyakarta:UGM  Pres

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar